Tampilkan postingan dengan label ptt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ptt. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2011

Setelah Satu Tahun

Satu episode kehidupan yang mungkin akan sulit saya lupakan dan akan terus membekas di hati adalah satu tahun yang saya habiskan di Ulu Talo. Begitu banyak kenangan dan emosi baru yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang mewarnai masa-masa itu. Segala sesuatu tentang ulu talo sungguh membuat saya rindu.


Ulu Talo membuka pagi bersama sinar matahari  dan kabut putih yang hampir penuh menutupi puncak bukit.  Sesekali terdengar suara monyet bersahut-sahutan nun jauh di rimba. Sebelum mulai mencuci piring di teras belakang rumah saya akan diam sejenak menikmati suguhan indah pagi hari yang tidak akan saya temukan di Jakarta itu. Kadang seruan Bu Pariyem yang tinggal tak jauh di belakang rumah dinas memecahkan lamunan saya. Ah, bahkan lambaian hangatnya di pagi hari juga mungkin tak akan saya saksikan lagi. 



Saat siang terik dan saya sudah tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan, bongkahan awan putih dengan latar biru langit yang sangat indah akan membuat saya melupakan sejenak rasa jenuh dan sepi. Kalau sudah begitu, bangku kayu yang dibuat uncu (paman) saat datang mengunjungi saya akan menjadi tempat favorit. Tempat saya menatap awan.
















Langit senja Ulu Talo dengan sinar mentari yang kemerahan memberikan warna tersendiri bagi saya. Ada nuansa sepi disana, karena saya tahu sinar kemerahan itu pertanda datangnya malam. Lagi, saya harus melalui hari yang mulai gelap itu dalam kesunyian, jauh dari keluarga dan teman. Kumandang azan Isya dari masjid kampung sedikit menenangkan saya. Ba'da isya selepas mengaji dua penjaga cilik saya, Tutur dan Ning, akan mengetuk pintu sambil berseru "mbaaa...". Lega sekali kalau sudah mendengar suara mereka. Sesekali saya bantu belajar dan mengerjakan PR. Sesekali saya nasehati agar mereka punya cita-cita dan terus bersemangat meneruskan pendidikan. Jangan puas hanya tamat SMP, menikah muda dan bekerja di kebun seperti kebanyakan anak gadis disana.

Saat malam-malam terang, rembulan akan menjadi hiburan mendamaikan bagi saya. Tiada lampu-lampu kota sebagai pesaing, sang rembulan berpuas diri menjadi primadona malam. Menjadi penerang jalan bagi anak-anak yang baru pulang mengaji. Sampai saat ini, setiap menatap purnama, saya teringat saat terang bulan di ulu talo. Rasa rindu segera menggelitik, yang mau tak mau memaksa saya tersenyum sendu.

Saya rindu menghabiskan senggang di warung Bu Siti di depan Puskesmas. Setiap pagi sebelum mulai beraktivitas saya selalu sarapan bakwan dan tahu isi disana. Kadang juga mencicipi siomay ala Bu Siti (yang lebih mirip pempek) yang dulu saat pertama kali mencobanya terasa aneh di lidah saya. Entah kenapa lama-kelamaan jadi terasa enak, bahkan suami yang datang sekali dua bulan tak pernah menolak tiap ditawari siomay unik itu =)




Saya rindu rumah dinas saya yang tergolong "bagus" dibandingkan kebanyakan rumah masyarakat disana yang umumnya masih berdinding kayu dan berlantaikan tanah. Tak peduli sepanas apapun sengatan matahari, rumah bercat putih itu terasa sejuk dan adem. Pekarangannya saya tanami berbagai tanaman yang ketika mulai berbunga 6 bulan kemudian menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Kadang sedih membayangkan kelak saya akan meninggalkan rumah dan bunga-bunga yang tak henti bermekaran itu.

Hujan hampir selalu lebat di Ulu Talo. Saking lebatnya, jalan setapak menurun menuju rumah dinas seolah berubah menjadi sungai kecil, mengalir deras. Ketika hujan, suara air yang beradu dengan atap rumah seolah bergemuruh, kadang membuat saya merinding. Kalau sudah begitu berkali-kali saya berucap "laa hawla wala quwwata illa billah" dan menatap keluar jendela mencari tanda-tanda kehidupan di luar untuk meyakinkan bahwa saya tidak sendirian. Ah, sekarang hujan itupun membuat saya rindu...

Staf dan karyawan Puskesmas jarang hadir lengkap tapi cukup menghargai saya yang usianya jauh di bawah mereka.  Hanya satu dua orang yang cukup rajin, membantu saya di pendaftaran dan apotek. Sayangnya mereka juga tidak tiap hari datang. Sisanya? Lebih banyak nongkrong di warung Bu Siti membiarkan saya melayani pasien sendirian, mulai dari pendaftaran, mencari status, memeriksa pasien, sampai mengambilkan obat di apotek. Namun kemudian saya menyadari mereka bukannya tidak mau membantu, tapi merasa tidak dibutuhkan. Mereka punya trauma tersendiri dengan dokter pendahulu saya. Akhirnya setelah beberapa bulan saya memberanikan diri. Kalau pasien sedang ramai-ramainya saya akan berseru pada beberapa staf yang sedang nongkrong di warung bu Siti untuk membantu pendaftaran pasien dan mengambilkan obat. Saya cukup kaget saat pertama kali melakukannya, tanpa disuruh dua kali mereka langsung datang dan bekerja. Setelah beberapa lama malah tidak perlu disuruh lagi. Mereka juga sering menghibur saya dengan obrolan mulai dari yang ringan-ringan sampai yang berat-berat. Melemparkan candaan dan banyolan yang kadang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Sambil menuliskan kisah ini saya terus membayangkan wajah mereka, berharap dapat memahatnya di hati agar saya takkan pernah lupa wajah dan nama mereka.

Berfoto bersama staf Puskesmas

Saya terkenang masa-masa terakhir pengabdian saya. Saat itu, satu tahun....akhirnya terlewati. Tiba saatnya mengucapkan selamat tinggal. Saya dan dokter gigi PTT, sahabat saya, memutuskan mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan dengan mengundang staf puskesmas dan warga sekitar puskesmas yang kami kenal baik.

Cukup ramai yang datang hari itu. Mama, papa dan kakak lelaki saya juga hadir saat itu untuk menjemput saya. Saat memberikan sambutan saya bertekad untuk tidak menangis, karena saya ingin mereka mengingat saya dalam keadaan tersenyum ketika berpisah. Namun, belum berapa lama saya berbicara, terdengar sesenggukan ibu-ibu yang tak urung membuat saya ikut menangis. Saya tidak menyangka acara perpisahan hari itu akan berubah mengharukan. Saya tidak menyangka berakhirnya masa tugas yang saya nanti-nantikan tidak se-membahagiakan yang saya bayangkan. Mereka memeluk saya erat dan menangis haru. Saat bubaran, saya bergegas kembali ke rumah dinas untuk membersihkan sisa-sisa kesibukan memasak hidangan untuk acara perpisahan. Siang itu juga kami akan bertolak meninggalkan Ulu talo. Papa yang menunggu di depan Puskesmas berkali-kali memanggil saya untuk segera berangkat. Ketika menuju mobil saya kaget luar biasa. Mereka semua masih disana, para staf dan warga. Mereka masih berkumpul di depan Puskesmas. Papa bilang, mereka belum mau pulang sebelum melepas keberangkatan kami. Ya Allah... Bagaimana mungkin saya tidak akan merindukan mereka. Saya sungguh terharu. Tersisip rasa sesal karena belum memberikan yang terbaik untuk mereka.


Berfoto bersama warga


Beribu maaf dan terima kasih saya sampaikan bagi mereka yang turut mendidik jiwa saya...

Moga kelak kami dapat bertemu kembali


Moga kelak saya bisa menginjakkan kaki kembali di Ulu Talo

Tempat dimana sejuta kenangan tersimpan



*sindrom pasca PTT*
 



Rabu, 27 Oktober 2010

My beautiful flowers




Risih melihat pekarangan rumah dinas yang gersang waktu pertama datang didukung banyaknya waktu luang, akhirnya saya putuskan untuk menyemarakkannya dengan bunga dan tanaman lainnya.
Sembari silaturahim ke rumah warga saya sempatkan meminta sedikit bibit tanaman bunga dari halaman rumah mereka. Saya pikir tanaman-tanaman tersebut baru akan berbunga setelah saya selesai PTT, tak disangka belum sampai 6 bulan sudah ada yang mulai berbunga. Dan tak sampai 1 tahun, semua tanaman sudah menampakkan bunganya dan menyemarakkan pekarangan rumah dinas saya.
Takjub sekali rasanya. Salah satu yang paling membuat saya sedih saat akan meninggalkan ulu talo adalah bagaimana nasib bunga-bunga itu jika nanti saya pergi?

Kenangan pertama datang




Ini adalah foto-foto yang sempat saya ambil ketika awal-awal mengabdi di Ulu Talo. Selalu rindu untuk kembali jika melihat foto-foto ini

Senin, 25 Oktober 2010

My First Baby in Ulu Talo

Malam itu adalah salah satu malam di pekan pertama Ramadhan tahun 2009. Azan isya baru saja berkumandang saat pintu depan rumah dinas diketok. Suami yang baru datang 2 hari sebelumnya membukakan pintu. Dalam keremangan cahaya dari lampu teplok saya mendengarkan dengan seksama perbincangan suami dengan 2 orang tamu laki-laki yang mengetok malam itu. Benar saja. Seperti dugaan saya, mereka datang untuk menjemput saya. Salah seorang saudara perempuannya hendak melahirkan sedangkan bidan PTT yang bertugas di desa mereka sedang tidak ditempat. Hfft...saya menghembuskan nafas dengan berat. Bagaimana tidak? Sudah berlalu kira-kira 2 tahun sejak terakhir kali saya membantu persalinan saat masih koas dulu. Itupun saya selalu didampingi dokter, bidan, maupun rekan sesama koas.

Setelah selesai berpakaian menutup aurat, saya menemui kedua tamu tersebut. Dengan hati yang ketar ketir saya mengajukan beberapa pertanyaan dan meminta mereka untuk menunggu. Saya ambil peralatan seadanya, dengan harapan setelah selesai memeriksa ibu yang hendak melahirkan saya bisa pulang kembali ke rumah dinas untuk menyiapkan obat dan alat yang dibutuhkan untuk membantu persalinan. Awalnya saya berharap suami bisa ikut mengantar, namun ternyata tempatnya sangat jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki dan kedua tamu tersebut hanya membawa satu motor. Akhirnya setelah berdiskusi singkat, kami memutuskan bahwa saya akan dibonceng oleh salah seorang tamu, sedangkan rekannya menunggu di rumah dinas bersama suami, hitung-hitung sebagai jaminan.

Ketika kami baru saja berangkat, gerimis yang sedari sore sudah membayang menjadi semakin riuh dan mulai berubah menjadi titik-titik hujan. Saya merasakan percikan air di wajah yang saat saya seka ternyata bukan air, melainkan lumpur. Hfff...kembali saya menghembuskan nafas dengan berat. Beginilah penderitaan dokter PTT yang mau tidak mau harus saya terima sebagai konsekuensi pilihan saya. Bismillah, semoga saya bisa kembali meluruskan niat dan Allah memudahkan perjalanan kami yang sepertinya akan berat. Ternyata memang, semakin jauh perjalanan, semakin jelek juga jalan yang kami lalui. Jalan tanah berbatu yang diguyur hujan menjadi sangat licin dan mendebarkan. Beberapa kali motor terpeleset dan terguncang sehingga saya harus semakin mengencangkan pegangan pada badan motor.

Perjalanan melelahkan itu berakhir saat motor berhenti di sebuah rumah kayu yang (lagi-lagi) berlantai tanah. Sudah ramai sekali orang berkumpul di depan dan di dalam rumah. Saya langsung dipersilahkan untuk menemui sang calon ibu yang sedang meringis kesakitan. Perempuan itu  masih sangat muda dan saya sudah tidak heran lagi. Tidak banyak pilihan yang tersedia bagi pemuda pemudi di Ulu Talo begitu mereka menamatkan bangku SLTP. Melanjutkan SMU ke kota kabupaten (yang tentu saja memakan biaya tidak sedikit) atau ikut membantu orang tua bekerja di kebun atau menikah muda.

Saya mencoba tersenyum dan berusaha terlihat meyakinkan saat menjelaskan proses persalinan yang akan dialami perempuan itu. Karena anak pertama, prosesnya mungkin akan sangat lama dan menyakitkan. Pemeriksaan pun saya coba lakukan dengan santai (walau hati masih ketar ketir) agar saya dan calon ibu serta keluarga yang rata-rata menunjukkan wajah cemas juga bisa sedikit relaks.

Kontraksi rahim sudah teratur, leher rahim sudah terbuka selaput ketuban masih utuh. Saya jelaskan bahwa bukaan leher rahim masih kecil. Sekilas saya tatap jam di tangan saya yang menunjukkan pukul 20.30. Saya perkirakan pembungkaan lengkap paling cepat baru akan tercapai pukul 1 dini hari. Hal itu saya sampaikan pada calon ibu dan keluarganya yang disambut dengan celetukan "apa nggak disuntik dorong saja dok?". Hfff...kali ketiga saya menghembuskan napas dengan berat malam itu, ada saja yang bersikap 'sok tahu'. Kembali saya jelaskan tentang fisiologi persalinan normal dengan bahasa yang saya coba sedekat mungkin dengan mereka hingga saya anggap tak ada lagi ganjalan tentang 'suntik dorong'.
Akhirnya saya pamit sementara waktu untuk kembali ke rumah dinas dengan alasan menjemput perlengkapan yang belum terbawa. Walau dengan berat hati, akhirnya mereka mengijinkan.

Ketika saya sampai kembali di rumah dinas waktu sudah hampir menunjukkan pukul 22.00. Dengan kaki bergetar karena lelah saya memasuki rumah dinas yang tidak terkunci. Di ruang tamu, lelaki yang tadi ikut menjemput saya sedang tertidur dengan lelap. Di dekatnya saya lihat tersaji segelas air dan sepiring kurma. Saya tersenyum, pasti suami yang menghidangkannya untuk tamu tersebut. Pria yang membonceng saya kembali ke rumah segera membangunkan temannya dan berpamitan sambil menanyakan jam berapa saya akan dijemput kembali.

Setelah mandi dan membersihkan badan yang penuh lumpur, saya shalat dan memanjatkan doa panjang pada Allah, agar proses persalinan yang akan saya hadapi berjalan lancar. Sejenak saya buka kembali Bab Asuhan Persalinan Normal di buku kebidanan yang saya bawa untuk menyegarkan kembali ingatan saya. Setelah yakin sudah menyiapkan seluruh alat dan obat-obatan yang diperlukan nantinya saya mencoba memicingkan mata sejenak, tidak mudah ternyata. Rasanya saya baru saja berada pada kondisi peralihan antara bangun dan tidur ketika pintu rumah kembali diketok. Hmmm...rasanya saya tadi minta dijemput jam 1, nyatanya jam 23 lewat saya sudah dijemput lagi. Saya maklum dengan kepanikan keluarga, tidak tenang memang, kalau tenaga kesehatan tidak mendampingi. Meski masih lelah akhirnya saya berangkat saat itu juga.

***

Pukul 2 dini hari. Pembukaan telah lengkap dan kepala bayi sudah terlihat di pintu kemaluan. Saya mulai memimpin sang calon ibu untuk meneran. Berkali-kali ia mengejan namun ternyata ia sudah kehabisan tenaga karena menahan sakit sejak siang. Saya minta bantuan salah seorang keluarga untuk membantu mendorong perut dari atas, tetap sia-sia. Satu jam berlalu, si ibu tidak bisa mengejan dengan baik. ia sudah kehabisan tenaga. Saya mulai panik. Kata-kata penyemangat yang saya lontarkan tetap tidak mampu membangkitkan semangat si ibu. Saya mulai putus asa. Dengan panik saya perintahkan keluarga untuk memanggil Pak Manik beserta mobil Pusling sebagai persiapan merujuk ke Bengkulu.

Akhirnya saya coba menenangkan diri dan menarik napas dalam seraya berkata dalam hati "pasti bisa!". Saya tatap mata perempuan yang sudah kepayahan itu dan dengan yakin berkata "ayo, kamu pasti bisa sayang. Kasian dedeknya udah kelamaan. Ayo, kamu pasti bisa". Dan sungguh menakjubkan, sugesti yang saya berikan entah kenapa membuat ibu muda itu kembali bersemangat. Ia mengejan dengan sekuat tenaga, beberapa kali hingga akhirnya kepala bayi keluar dengan sempurna. Sampai disana saya sudah lega luar biasa, karena tugas saya selanjutnya sudah jauh lebih mudah. Dengan tangan bergetar saya bersihkan mulut dan hidung bayi dan selanjutnya bahu atas dan bawah lahir dengan mudah. Bayi itu menangis kencang, disambut ucapan Hamdalah dari semua yang hadir di ruangan itu.

Di penghujung malam itu, selesai menjahit luka robekan paska melahirkan saya memandangi keluarga kecil berbahagia itu dengan perasaan haru. Kepada sang suami saya sampaikan bahwa istrinya adalah wanita yang luar biasa dan berpesan agar menjaga dan mendidik anak yang sudah Allah titipkan sebaik mungkin, menjadi anak yang sholih.

Malam itu menjadi salah satu malam terindah dan berkesan dalam hidup saya. Masih jelas teringat rasa haru dan syukur pada malam itu. Pertolongan Allah sangatlah dekat, bagi hamba-hamba-Nya yang yakin. Allah Maha Penyayang. Terima kasih ya Allah...

 

Jumat, 02 Juli 2010

Cempedak Berbuah Nangka?

Dari dulu saya selalu bingung dengan pepatah di atas. Apa maksudnya cempedak berbuah nangka? Bukankah cempedak adalah nangka dan nangka adalah cempedak? Kenapa pula harus dibuat peribahasa seperti itu?

Dengan agak malu, di tulisan ini saya harus mengakui kalau saya baru tahu bahwa cempedak dan nangka tidaklah sama, melainkan memang dua jenis buah yang berbeda walaupun memang memiliki beberapa kemiripan. Setelah hidup selama 27 tahun barulah saya mengetahui fakta itu. Bukan lewat google ataupun ensiklopedia, melainkan lewat sebuah jalan-jalan sore yang menyenangkan di pertengahan Januari 2010.

Sore itu matahari masih begitu terik dan saya bosan setengah mati tidak tahu mau melakukan apa. Buku-buku yang saya bawa sudah habis dibaca, TTS sudah penuh terisi, baterai HP dan Laptop sudah kritis. Beruntung 2 sahabat sesama "penjaga" Puskesmas Ulu Talo menawarkan untuk ikut ke Mekar Jaya, desa yang berjarak kurang lebih 5 km dari tempat saya tinggal. Mau mencari cempedak katanya. Aha! Kebetulan sekali, rasa penasaran saya akan "cempedak berbuah nangka" bisa terjawab dan saya selamat dari "bencana mati gaya" sore itu. Yap, akhirnya saya putuskan untuk ikut.

Setelah melewati jalanan tanah dan berbatu mobil pusling kami akhirnya menepi di sebuah rumah kayu yang nyaman. Kami disambut seorang pria muda berwajah serius yang langsung mengenali 2 sahabat saya. Sedikit basa-basi, agak malu-malu kami utarakan maksud kedatangan kami mencari (baca: meminta) cempedak. Wajah tuan rumah terlihat agak menyesal karena sepertinya tamunya akan kecewa. Musim cempedak sudah hampir berakhir dan tidak banyak buah yang tersisa. Sejenak ia ke belakang rumah dan kembali dengan 4 buah cempedak matang.

Wow...jadi ini yang namanya cempedak! Ternyata memang berbeda dengan nangka. Ukuran cempedak jauh lebih kecil, bentuknya lonjong dan kulitnya lebih tajam. Coba saja lihat foto di bawah ini...
Lihat lebih dekat...


Hal yang membuat saya sangat tertarik sekaligus terkaget-kaget tentang cempedak adalah cara membukanya yang unik dan beda. Sangat beda dengan cara mengupas nangka.

Pertama, kulit cempedak dibelah memanjang di bagian tengah:
Kedua, bagian yang sudah dibelah ditarik dengan kedua tangan dengan arah berlawanan secara perlahan.Terlihat daging buah menempel ke semacam tangkai seperti susunan buah anggur.

Ketiga, perlahan buah dikeluarkan dari kulitnya dengan cara memegang tampuk buah dan menarik ke atas perlahan-lahan.
Nah, sekarang buah siap dinikmatiUkuran isi buah cempedak jauh lebih kecil daripada nangka, hanya sedikit lebih besar dari buah anggur. Rasanya sangat manis, daging buah lebih berserat dan berair dari pada nangka.

Itulah pertama kali saya melihat dan memakan buah cempedak, mudah-mudahan lain waktu saya berkesempatan kembali mencicipi buah beraroma manis tersebut.

Sayang sekali, sampai sekarang saya masih belum menemukan arti pepatah "cempedak berbuah nangka". Kali ini, mungkin lebih baik saya bertanya ke om google saja :)

Kamis, 07 Januari 2010

Sendiri Dulu

Ulu Talo, Juni 2009

Masa cuti telah berakhir. Tugas sudah memanggil. Tiba waktunya bagi Mas untuk kembali ke Jakarta, yang berarti Ewie harus tinggal sendiri di Ulu Talo. Beberapa hari sebelum kepulangan MAs ke Jakarta Ewie telah mempersiapkan hati agar tidak terlalu sedih ketika Mas pergi.
Kutatap wajahnya, kucium tangannya. Kulepas kepergiannya dengan hati sendu, tapi hamdallah tiada air mata yang mengalir. Ewie tidak ingin Mas khawatir.
Sendiri dulu. Sepulang dari Puskesmas yang hanya berjarak 10 meter dari rumah dinas tidak ada lagi yang menyambut Ewie. Hanya rumah kosong yang masih harus dibenahi. Yah, tidak apa-apa. Inilah konsekuensi mempunyai jiwa petualang.
Mengabdi sebagai dokter PTT di daerah sangat terpencil telah menjadi cita-cita dan idealisme Ewie sejak dulu. Sejak sebelum menikah dengan Mas telah Ewie utarakan padanya mengenai hasrat yang satu itu. Setelah menikah Mas menepati janjinya untuk mengizinkan Ewie PTT. Beberapa kali rencana PTT gagal oleh satu dan lain hal. Sempat pula Ewie memutuskan untuk melupakan cita-cita mengabdi di pelosok negeri itu dan ikut kemana Mas bertugas. Sayangnya hati tidak bisa dibohongi. Negeri terus memanggil. Ewie tak tenang karena hutang pada hasrat belum juga terbayarkan.
Yah, akhirnya tersampaikan juga cita-cita yang sempat terpendam itu. Mas dan keluarga besar memberi restu, dengan syarat tempatnya harus benar-benar aman dan gampang dikunjungi (murah ongkos transportnya :p). Berarti wilayah Indonesia bagian timur tercoret dari daftar daerah tujuan PTT Ewie. Pulau Sumatera akhirnya kami anggap tempat yang paling sesuai.
Akhirnya, di sinilah Ewie. Di Ulu Talo. Sebuah kecamatan di Propinsi Bengkulu.
Beginilah Ewie, sendiri dulu. Semoga Allah meridhoi...


* Satu tahun. Hanya itu yang Ewie minta dari Mas. Sesudahnya... I'll always be by your side...Insya Allah*

Selasa, 29 Desember 2009

Optimis Lagi

Bengkulu, 3 Juni 2009

Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah. Esok ternyata memang lebih cerah. Matahari yang baru saja terbit memancarkan sinar hangatnya ke seantero Desa Hargo Binangun. Hatiku kembali hangat. Apalagi saat mengetahui bahwa ternyata memang ada angkot/mobil tambangan jurusan Ulu Talo-Kota Bengkulu yang melintas di depan Puskesmas setiap pukul 7 pagi. "Hmm... berarti tempat ini tidak terlalu terpencil", begitu pikirku menghibur diri.
Bermodalkan perut kosong dan badan yang belum diguyur air (baca: belum mandi :p), aku dan suami berangkat ke Bengkulu dengan menumpang angkot pertama yang melintas. Tujuan kami ke Bengkulu utamanya ingin membeli berbagai perlengkapan mendasar yang diperlukan untuk menjalani hidup satu tahun di tempat terpencil dan tak berlistrik seperti Ulu Talo. Genset, pompa air, pipa, selang, kabel, peralatan memasak (kompor dan teman-temannya), ember besar penampung air, ember kecil, serta pernak-pernik lainnya sudah masuk dalam daftar belanjaan hari itu.
Perjalanan ke Bengkulu ditempuh dalam waktu 3 jam. Satu jam pertama kami harus melewati jalanan rusak yang nyaris tidak pernah diperbaiki sejak pertama kali dibangun 20an tahun yang lalu. Melelahkan. Hamdallah, akhirnya sampai juga di jalan raya Seluma-Bengkulu. Setidaknya tidak tersiksa lagi oleh guncangan mobil akibat jalan rusak tersebut.
Pukul 10.00 kami telah memasuki kota Bengkulu. Pak supir yang baik hati mengantar kami ke Pasar Panorama di Lingkar Timur. Rencananya kami akan kembali ke Ulu Talo hari itu juga dengan menumpang angkot yang sama. Yak, berarti harus gerak cepat. Kami hanya punya waktu 3 jam untuk menyelesaikan segela urusan, termasuk mengetik berbagai berkas yang harus kuserahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma beberapa hari kemudian. Kami berbagi tugas. Suami bertugas membeli barang-barang yang ada di daftar belanjaan, sementara aku harus mencari rental komputer/warnet terdekat. Huff... berpanas-panasan di jalanan pasar Panorama sungguh melelahkan dan membuat kesal, apalagi saat warnet pertama dan kedua yang kudatangi tidak mempunyai fasilitas printer atau penuh oleh anak-anak usia sekolah yang asyik bermain game online. Hampir putus asa, hamdallah akhirnya ada juga komputer nganggur di salah satu warnet, dan bisa print. Itu yang penting!
Setelah hampir 2 jam berkutat dengan tuts-tuts komputer dan dengan sukses mencetak berkas-berkas tersebut, bersegera aku mencari dimana gerangan si Mas berada. Mondar-mandir beberapa saat, akhirnya kutemukan suami tercinta di salah satu toko. Masih sibuk dengan daftar belanjaannya. Terlihat lelah. Kasihan...Huff... Udara masih sangat panas, sementara aku masih harus mencari barang-barang yang belum terbeli.
Pukul 14.00 kurang sedikit, kami telah selesai berbelanja. Barang-barang telah dimuat ke mobil dan siap berangkat kembali ke Ulu Talo. Sepanjang perjalanan kami tertidur kelelahan. Tak terusik oleh udara panas dan rasa lengket di badan. Sekitar pukul 17 akhirnya kami sampai juga di rumah. Sebentar saja melepas lelah, aku sudah harus ke warung atas mencari bahan-bahan yang kira-kira bisa dimasak. Kalau tidak masak, ya tidak makan. Mana ada warung makan di Ulu Talo :)
Menjelang magrib, jadilah masakan pertamaku di ranah PTT ini; teri dan kentang balado serta sayur kol yang diuap di atas tanakan nasi. Sederhana tapi nikmat. Hamdallah... Mulai saat itu aku sudah bisa tersenyum lega dan optimis menjalankan pengabdian. Malah di kemudian hari aku sangat bersyukur Allah menempatkanku di sini. Di Ulu Talo. Semoga Allah memudahkan segalanya. Amin.

Gamang

Bengkulu, 2 Juni 2009

Awan bergelayut malas di langit Ulu Talo ketika kami menginjakkan kaki pertama kali di kawasan yang dikelilingi bukit barisan itu. matahari malu-malu menampakkan sinarnya yang benderang. Mendung... Hatiku turut mendung. Apalagi ketika menangkap suasana sepi yang melingkupi kompleks Puskesmas dan rumah-rumah dinas dokter dan paramedis. Tidak terlihat satupun rumah penduduk dari tempat kami berdiri.
Gamang. Kami mengikuti langkah-langkah cepat para petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma yang mengantar rombongan kecil kami; dokter gigi PTT, aku sendiri sebagai dokter PTT, dan suamiku. Aura sunyi yang tadi mencekam seketika buyar ketika kami disambut oleh Kepala Puskesmas Ulu Talo, lelaki 40an tahun berbadan gempal dan bersuara besar dengan aksen Batak yang kental. Tumpak Damanik namanya. Beliau langsung memperkenalkan kami pada staf Puskesmas lainnya.
Setelah memberikan sedikit pengarahan sang Kapuskes mengantar kami melihat-lihat rumah dinas yang akan kami tempati. Rumah dinas dokter dan paramedis terletak tepat di belakang gedung  Puskesmas. Aku dipersilakan menempati rumah dinas bidan yang kebetulan tidak ditempati oleh bidan desa Hargo Binangun, desa dimana Puskesmas Kecamatan Ulu Talo berada. Rumah dinas bidan itu terletak di tengah, diapit rumah dinas dokter dan rumah dinas perawat. Terlihat kusam dan semrawut karena lama tak ditempati. Rumput dan ilalang tumbuh subur di pekarangan kiri kanan rumah. Sementara halaman belakang rumah penuh dengan pepohonan kecil dan belukar. Keadaan di dalam rumah tak kalah menyedihkannya. Lantai kotor penuh dengan kotoran serangga dan sarang laba-laba menempel di berbagai penjuru langit-langit. Sepanjang siang itu kami mulai sibuk membersihkan rumah hingga layak untuk ditempati, setidaknya untuk 1 malam saja.
Senja merayap lambat. Matahari berlalu tanpa menyisakan sedikitpun cahayanya. Aku semakin gamang. Tidak ada listrik.  Gelap gulita dan sunyi di Hargo Binangun. Hanya terdengar suara binatang malam bersahut-sahutan, yang di kemudian hari dijuluki ibu mertua "Oskestra Alam". Gamangku akhirnya tumpah di dada suami, ditemani buting-butir bening yang mengalir pelan di pipiku. Ya... Membayangkan harus hidup di tempat itu setahun ke depan, tangisku tak lagi terbendung. Kutanya hatiku, apakah benar ini yang kuinginkan? Ia tak berani menjawab.
Aku lelah. Kubiarkan hatiku menumpahkan rasa pada belahan jiwa yang tak akan kemana, setidaknya untuk saat itu. Batinku terlalu lelah untuk mencerna argumen-argumen yang dikemukakan logikaku agar aku komitmen dengan keputusan ini. Untuk saat itu biarlah hatiku mengadu. Sambil berharap, esok akan lebih cerah. Esok akan lebih kuat.